Grand Mall Bekasi Tutup: Simbol Runtuhnya Pusat Belanja Legendaris Milik Lippo Group
Daftar Isi
Bekasi, Wacana Publik - Penutupan Grand Mall Bekasi menjadi kabar yang mengundang nostalgia bagi banyak warga. Pusat perbelanjaan yang pernah menjadi ikon hiburan dan belanja keluarga di Bekasi itu kini resmi tutup setelah bertahun-tahun beroperasi di bawah naungan Lippo Group. Keputusan ini menandai berakhirnya satu babak dalam sejarah ritel kota Bekasi sekaligus mencerminkan pergeseran besar dalam gaya hidup masyarakat yang kini lebih banyak beralih ke platform belanja daring.
Grand Mall Bekasi Tutup: Simbol Runtuhnya Pusat Belanja Legendaris Milik Lippo Group
Pusat perbelanjaan legendaris Grand Mall Bekasi kini resmi tutup dan tinggal kenangan. Mal yang dulunya menjadi salah satu ikon hiburan dan belanja warga Bekasi itu kini sepi, tanpa aktivitas perdagangan. Bangunan besar yang dulunya ramai dengan lalu-lalang pengunjung kini tampak kosong dan tertutup rapat, menjadi saksi perubahan zaman di industri ritel Indonesia.Grand Mall Bekasi merupakan salah satu properti milik Grup Lippo, konglomerasi besar yang dikenal luas di sektor properti dan pengembangan kota modern. Pengelolaan pusat belanja ini dilakukan oleh Lippo Malls Indonesia, anak usaha Lippo Group yang menaungi puluhan pusat perbelanjaan di berbagai daerah di Indonesia.
“Grand Mall Bekasi tercatat dalam daftar anggota Lippo Malls Indonesia,” ujar Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, Sabtu (11/10/2025).
Milik Konglomerat Mochtar Riady, Kini Diteruskan James Riady
Lippo Group didirikan oleh Mochtar Riady, salah satu konglomerat terkemuka Indonesia yang dikenal dengan kiprahnya di sektor keuangan, properti, hingga pendidikan. Kini, tongkat estafet bisnis Lippo banyak diteruskan kepada generasi kedua keluarga, termasuk sang putra James Riady, yang aktif memperluas portofolio bisnis ke bidang digital dan kesehatan.Menurut data di situs resmi Lippo Malls Indonesia, Grand Mall Bekasi memiliki total luas bangunan (Gross Floor Area) sebesar 47.667 meter persegi dan luas area sewa (Net Floor Area) sekitar 28.699 meter persegi. Dengan lima lantai utama serta dua lantai basement untuk parkir, Grand Mall Bekasi dahulu dikenal sebagai pusat belanja dengan fasilitas lengkap di kawasan strategis, dekat dengan pertigaan Kranji dan Stasiun Kranji.
Lippo Malls Indonesia dalam laman resminya menjelaskan bahwa mal tersebut dulu menghadirkan berbagai pilihan ritel, kuliner, hingga hiburan keluarga. “Mal ini menghadirkan beragam pilihan toko ritel, kuliner, dan fasilitas hiburan, menjadikannya tempat yang nyaman untuk berbelanja, makan, dan bersantai bersama keluarga,” tulis perusahaan dalam deskripsinya.
Sepi Aktivitas, Pintu Mal Terkunci Rapat
Namun kini, semua itu tinggal kenangan. Berdasarkan pantauan langsung di lokasi, suasana Grand Mall Bekasi tampak sunyi dan kosong. Tidak ada aktivitas perbelanjaan meski hari tersebut merupakan akhir pekan—biasanya waktu paling ramai bagi pusat belanja.Tulisan “Grand Mall Bekasi” di bagian depan bangunan kini tertutup terpal, sementara area yang biasa digunakan untuk memasang banner promosi atau logo tenant terlihat kosong. Dari luar, tampak jelas bahwa pusat perbelanjaan ini tidak lagi beroperasi.
Akses menuju lobi utama pun sudah terkunci rapat, tidak bisa dimasuki pengunjung. Di area depan, tiga papan bertuliskan “Awas Lantai Basah” dipasang sebagai penanda dan penghalang. Begitu pula dengan pintu timur dan barat di sisi bangunan yang juga telah tertutup. Tak ada satu pun akses yang bisa digunakan untuk masuk ke dalam kawasan mal tersebut.
Gelap, Kosong, dan Penuh Tanda “Disewakan”
Ketika dilihat dari kaca luar, bagian dalam mal tampak gelap tanpa penerangan. Seluruh kios dan toko tutup, meninggalkan ruang kosong yang sunyi. Banyak etalase yang kini hanya menampilkan tanda “Dijual” atau “Disewakan”, menandakan tenant telah pergi. Sebagian lainnya tertutup rapat dengan teralis berdebu, menandakan sudah lama tidak ada kegiatan perdagangan.Pemandangan ini menggambarkan betapa cepatnya perubahan dunia ritel modern. Jika dulu Grand Mall Bekasi menjadi pusat gaya hidup warga Bekasi dan sekitarnya, kini keberadaannya tergantikan oleh mal baru yang lebih modern dan pusat belanja berbasis digital yang semakin diminati masyarakat.
Pergeseran Gaya Belanja dan Dampaknya terhadap Industri Mal
Fenomena tutupnya Grand Mall Bekasi tidak bisa dilepaskan dari pergeseran pola belanja masyarakat Indonesia. Dengan semakin berkembangnya e-commerce dan layanan belanja online, banyak konsumen kini lebih memilih berbelanja lewat ponsel ketimbang datang langsung ke pusat perbelanjaan.Pandemi COVID-19 juga menjadi pemicu awal tren ini. Sejak saat itu, kunjungan ke mal tradisional menurun drastis, sementara bisnis daring melonjak tajam. Meski sejumlah mal besar di Jakarta dan kota lain mulai pulih, tidak semua mampu bertahan dalam tekanan perubahan ini—terutama mal dengan lokasi dan tenant yang stagnan.
Menurut pengamat properti dan ritel, penutupan Grand Mall Bekasi bisa menjadi sinyal bahwa sektor pusat perbelanjaan konvensional perlu segera beradaptasi. Inovasi dalam konsep, kolaborasi dengan merek lokal, dan digitalisasi menjadi kunci agar mal-mal lain tidak bernasib sama.
Lippo Group dan Transformasi Bisnis Ritel
Sebagai salah satu pemain besar di sektor properti, Lippo Group juga menghadapi tantangan serupa. Meski memiliki puluhan mal di bawah Lippo Malls Indonesia, perusahaan kini mulai melakukan restrukturisasi bisnis ritel dan transformasi digital.Beberapa pusat belanja milik Lippo telah diubah fungsinya menjadi mixed-use development, menggabungkan area hunian, perkantoran, dan lifestyle mall yang lebih modern. Strategi ini dinilai sebagai cara untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar generasi muda yang lebih menyukai konsep hiburan, teknologi, dan kenyamanan dibanding sekadar belanja konvensional.
Grand Mall Bekasi, Dari Ikon Menjadi Kenangan
Bagi warga Bekasi, tutupnya Grand Mall bukan hanya soal bisnis yang gagal, melainkan hilangnya bagian dari sejarah kota. Mal ini pernah menjadi tempat berkumpul, berbelanja, menonton film, hingga menghabiskan waktu bersama keluarga. Kini, bangunannya berdiri sunyi—seakan menunggu keputusan akhir apakah akan direnovasi, dijual, atau dialihfungsikan.Kisah Grand Mall Bekasi menjadi refleksi dari perubahan besar dalam dunia ritel dan gaya hidup masyarakat urban Indonesia. Ia pernah jaya di masanya, tetapi akhirnya harus menyerah pada derasnya arus perubahan zaman. (wp)

Posting Komentar