Korea Utara Pamerkan Rudal Balistik Antarbenua Hwasong-20, Disebut Sebagai Senjata Nuklir Terkuat

Daftar Isi


Jakarta, Wacana Publik - Korea Utara memamerkan rudal balistik antarbenua (ICBM) terbaru bernama Hwasong-20 dalam parade militer di Pyongyang. Rudal ini digambarkan sebagai senjata nuklir paling kuat yang pernah dimiliki Korea Utara, menandai kemajuan besar dalam ambisi nuklir Kim Jong Un.

Korea Utara Pamer Rudal Balistik Antarbenua Hwasong-20 di Parade Militer 

Korea Utara kembali menarik perhatian dunia dengan menampilkan rudal balistik antarbenua (ICBM) terbarunya dalam parade militer besar-besaran yang digelar di Pyongyang. Parade yang dipimpin langsung oleh Pemimpin Tertinggi Kim Jong Un ini menandai debut publik dari rudal Hwasong-20 — yang diklaim sebagai sistem senjata strategis nuklir paling kuat yang dimiliki negara tersebut, sebagaimana dilaporkan oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) dan dikutip oleh Al Jazeera.

Rudal raksasa tersebut dipamerkan di atas truk peluncur 11-poros, menandakan skala dan kekuatan teknologi militer terbaru Korea Utara. Kehadiran Hwasong-20, menurut para analis, merupakan sinyal tegas bahwa rezim Kim berkomitmen untuk memperkuat kemampuan nuklir jarak jauhnya, meskipun menghadapi tekanan dan sanksi internasional yang terus meningkat.

Hwasong-20: Senjata Nuklir dengan Daya Dorong Terkuat

Dalam laporan KCNA, Hwasong-20 disebut sebagai pencapaian terbaru dalam ambisi Korea Utara untuk menguasai teknologi peluncuran nuklir berjangkauan antar benua. Mesin roket rudal ini disebut memiliki daya dorong hingga 1.971 kilonewton, lebih besar dari mesin rudal-rudal sebelumnya.

Mesin tersebut dibuat menggunakan serat karbon—material yang lebih ringan namun sangat kuat—yang memungkinkan peningkatan efisiensi bahan bakar serta kemampuan manuver yang lebih baik. Teknologi ini diharapkan mampu membawa rudal dengan jarak jangkauan lebih jauh dan presisi lebih tinggi, bahkan berpotensi menembus sistem pertahanan rudal Amerika Serikat.

Menurut Ankit Panda dari Carnegie Endowment for International Peace, Hwasong-20 adalah simbol ambisi Korea Utara untuk memiliki sistem pengiriman nuklir jarak jauh yang benar-benar operasional. “Sistem ini kemungkinan besar akan diuji coba sebelum akhir tahun ini,” ujarnya.

Potensi Membawa Beberapa Hulu Ledak Nuklir

Salah satu aspek paling mengkhawatirkan dari Hwasong-20 adalah kemampuannya untuk membawa beberapa hulu ledak nuklir (MIRV - Multiple Independently targetable Reentry Vehicle). Jika hal ini benar, maka rudal tersebut dapat menyerang beberapa target secara bersamaan, meningkatkan efektivitas serangan dan mengurangi peluang pertahanan rudal musuh untuk menangkisnya.

Para ahli menilai, pengembangan teknologi MIRV ini akan menjadi lompatan besar bagi kemampuan militer Korea Utara. Panda menjelaskan bahwa strategi tersebut akan “meningkatkan tekanan pada sistem pertahanan rudal AS” dan memperkuat efek pencegahan strategis terhadap Washington.

Namun, meski secara teori kemampuan tersebut sangat berbahaya, masih terdapat banyak pertanyaan terkait tingkat akurasi sistem pemandu rudal dan kemampuan hulu ledaknya untuk bertahan saat memasuki kembali atmosfer bumi.

Parade Militer dan Pesan Politik Kim Jong Un

Parade di Pyongyang yang menampilkan Hwasong-20 digelar dalam rangka memperingati 80 tahun berdirinya Partai Buruh Korea, partai yang berkuasa di negara tersebut. Dalam pidatonya setelah parade, Kim Jong Un menegaskan posisi Korea Utara sebagai “benteng kemerdekaan” yang menolak dominasi dan tekanan dari negara-negara Barat.

“Hari ini, kita berdiri di hadapan dunia sebagai bangsa yang perkasa, tanpa hambatan yang tak dapat kita atasi,” ujar Kim, sebagaimana dikutip KCNA. Pidato tersebut menjadi pernyataan simbolik bahwa Korea Utara tetap kukuh dalam jalur kemandirian dan kekuatan militer, terlepas dari isolasi global yang dihadapinya.

Selain Hwasong-20, parade tersebut juga menampilkan rudal jelajah strategis jarak jauh dan kendaraan peluncur drone. Hal ini memperlihatkan upaya rezim Kim dalam mengintegrasikan berbagai teknologi militer modern ke dalam kekuatan pertahanannya.

Dukungan Rusia dan Simbol Aliansi Baru

Menariknya, parade kali ini juga dihadiri oleh pejabat tinggi asing, termasuk Dmitry Medvedev, wakil kepala Dewan Keamanan Rusia sekaligus sekutu dekat Presiden Vladimir Putin. Kehadiran Medvedev menunjukkan penguatan hubungan strategis antara Pyongyang dan Moskow di tengah ketegangan geopolitik global.

Dalam pertemuan dengan Kim Jong Un, Medvedev menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan Korea Utara terhadap operasi militer Rusia di Ukraina. Ia menulis di media sosial Rusia Max, “Sifat hubungan antara negara kita terlihat jelas di masa-masa sulit. Kami berterima kasih atas dukungan Republik Rakyat Demokratik Korea terhadap operasi militer khusus ini.”

Sebagai tanggapan, Kim Jong Un menyatakan harapannya untuk mempererat kerja sama dan melakukan pertukaran yang lebih erat di berbagai bidang dengan Rusia. Langkah ini dianggap sebagai bentuk aliansi ideologis dan strategis antara dua negara yang sama-sama menghadapi sanksi dan tekanan dari negara Barat.

Ancaman Baru Bagi Stabilitas Kawasan

Kemunculan Hwasong-20 menambah daftar panjang uji coba senjata strategis Korea Utara yang menimbulkan kekhawatiran bagi kawasan Asia Timur. Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat diyakini akan meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat kerja sama pertahanan bersama.

Para pengamat menilai bahwa parade ini bukan sekadar perayaan militer, tetapi juga pesan politik dan strategis kepada dunia bahwa Korea Utara telah mencapai kemampuan militer yang lebih maju dan siap menandingi tekanan Barat dengan kekuatan nuklirnya.

Meskipun efektivitas sistem rudal Hwasong-20 masih harus dibuktikan melalui uji coba nyata, kemunculannya menunjukkan bahwa Pyongyang tidak akan berhenti mengejar teknologi senjata pemusnah massal sebagai bagian dari strategi bertahannya.

Dengan memamerkan Hwasong-20, Korea Utara berupaya menunjukkan kepada dunia bahwa mereka semakin dekat dengan ambisi memiliki sistem senjata nuklir yang sepenuhnya operasional. Pidato Kim Jong Un dan dukungan Rusia menambah bobot pesan politik dalam parade ini — bahwa Korea Utara kini berdiri sebagai “kekuatan sosialis” yang menantang tatanan global Barat. (wp)

© Wacana Publik News

Posting Komentar